Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi akibat kondisi geografis, geologis, dan iklim. Berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, rob, letusan gunung api, serta cuaca ekstrem makin sering terjadi dan diperparah oleh dampak perubahan iklim. Situasi ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur, tetapi juga berdampak besar terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, arsitektur memiliki peran strategis yang tidak terbatas pada penciptaan ruang fungsional dan estetis, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem pengurangan risiko bencana. Pendekatan resiliensi arsitektur menekankan kemampuan lingkungan binaan untuk mengurangi risiko (mitigasi), berfungsi dan beradaptasi saat bencana, serta pulih dan berkembang kembali secara berkelanjutan pasca bencana. Arsitektur yang resilien diharapkan mampu menjawab tantangan keselamatan, keberlanjutan, serta ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi krisis kebencanaan.
Namun, hingga saat ini, penerapan konsep resiliensi dalam praktik dan pendidikan arsitektur masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pemahaman konseptual, integrasi kebijakan dan perencanaan, hingga implementasi desain yang kontekstual dengan kondisi lokal. Oleh karena itu, diperlukan ruang diskusi ilmiah dan pertukaran gagasan yang
mempertemukan akademisi, praktisi, peneliti, dan pemangku kepentingan untuk membahas peran arsitektur secara komprehensif dalam seluruh siklus bencana.

Seminar Nasional Arsitektur Pertahanan 2026 “Resiliensi Arsitektur: Mitigasi hingga Pemulihan Pasca Bencana”, diharapkan dapat terbangun pemahaman bersama, pengembangan inovasi, serta penguatan peran arsitektur dalam menciptakan lingkungan binaan yang aman, adaptif, dan berkelanjutan. Seminar ini menjadi wadah strategis untuk mendorong kontribusi nyata arsitektur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengurangan risiko bencana di Indonesia.